Pariwisata Melesu Rumput Laut Kembali Dilirik di Lembongan

7

KLUNGKUNG (bisnisjakarta.co.id) – Sejak Pandemi Covid-19 menerpa Bali, membuat pelaku usaha di sektor pariwisata lumpuh total. Hal tersebut karena sebagian besar masyarakat sangat menggantungkan hidup di sektor pariwisata.

Meskipun demikian tak seluruh pekerja di sektor pariwisata menyerah. Beberapa tetap berdiri tegak mencari celah bertahan hidup. Salah satunya I Kadek Sukarca, seorang pekerja di sektor pariwisata di Nusa Lembongan yang terdampak akibat Pandemi.

Melihat keadaan tersebut dirinya langsung banting setir dengan kembali menjadi petani rumput laut. Hal tersebut tak sulit dilakoni, karena sebelum bekerja di sektor pariwisata, orang tuanya memang seorang petani rumput laut.

Dengan kondisi menjadi petani rumput laut, dirinya mengaku telah mampu meraup jutaan rupiah perbulan dengan hasil ratusan kilo gram perbulannya.

“Kembali bertani rumput laut dengan jenis Sakul Katoni memang sebelumnya pada 1985 di Lembongan beberapa orang tua kami telah menjadi petani rumput laut dengan jumlah kelompok saat itu sebanyak 9 kelompok,” jelasnya.

Pada 1990 misalnya panen mencapai ton-tonan dalam sebulan dengan permintaan dari beberapa negara mancanegara.

“Dulu lebih besar hasil panennya perbulan mampu mencapai 1,5 ton pada 1990 dengan tujuan ekspor ke Jepang, Amerika dan Belada dengan harga jual perkilo saat itu mulai dari Rp 5 sampai 7 ribuan,” paparnya.

Dengan terjun kembali menjadi petani rumput laut, ia mengaku dalam sebulan atau saat panen mampu meraup Rp3 juta.

“Memang tetap semuanya tergantung dari hasil panen. Tetapi rata-rata tiga juta mampu diraup sebulanya. Tentu kondisi tersebut sangat membantu di tengah ketidakpastian saat ini,” bebernya.

“Saya tentu sangat bersyukur ada rumput laut ini apa lagi dalam kondisi seperti saat ini,” pungkasnya. *gde

Baca Juga :   Menhub Ajak Aplikator dan Pengemudi Patuhi Protokol Kesehatan