BTN Optimis Kinerja Tumbuh Lebih Baik

    24
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    PT Bank Tabungan Negara (BTN) terus memupuk rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) perseroan untuk mempersiapkan diri menghadapi aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71. Dengan strategi tersebut, perseroan mencatat perolehan laba senilai Rp
    801 miliar.

    Plt. Dirut BTN Oni Febriarto R di Jakarta, Kamis (14/11) mengatakan, perseroan berkomitmen meningkatkan rasio pencadangan. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan mengerek naik nilai CKPN sebesar 21,34% secara tahunan dari Rp1,79 triliun menjadi Rp2,18 triliun pada September 2019.

    Secara rasio, kata Oni, CKPN perseroan naik ke level 52,67% pada September 2019 dari 38,58% di bulan yang sama tahun lalu. “Dengan peningkatan alokasi ke CKPN tersebut, laba bersih kami berada di posisi Rp801 miliar pada kuartal tiga ini. Hingga akhir tahun, kami membidik rasio CKPN terus naik ke level di atas 70%,” jelas Oni.

    Oni menuturkan, perolehan laba bersih tersebut disumbang pendapatan bunga perseroan serta efisiensi yang dilakukan. Pendapatan bunga BTN tercatat melaju di atas kenaikan penyaluran kredit meski di tengah kondisi penurunan suku bunga acuan.

    Pendapatan bunga BTN terekam naik sebesar 17,97% atau berada di atas laju kredit di level 16,75%. Catatan keuangan perseroan menunjukan pendapatan bunga per kuartal III/2019 senilai Rp19,32 triliun atau naik dari Rp16,38 triliun pada September 2018.

    Menurut Oni, BTN juga berhasil melakukan efisiensi dengan pertumbuhan biaya operasional di luar CKPN hanya sebesar 1,3% per September 2019. Angka tersebut turun jauh di bawah kenaikan biaya operasional di luar CKPN pada 2018 sebesar 11,2%. Pertumbuhan biaya operasional tersebut juga berada jauh di bawah kenaikan aset yang melesat sebesar 16,1% per September 2019.

    Baca Juga :   Tahun ini, BNN Depok Gencarkan P4GN

    Adapun pendapatan bunga BTN ditopang penyaluran kredit perseroan yang naik sebesar 16,75% dari Rp220,07 triliun pada September 2018 menjadi Rp256,93 triliun di bulan yang sama tahun ini. Kenaikan kredit tersebut ditopang pertumbuhan positif pada KPR Subsidi.

    Laporan keuangan emiten bersandi saham BBTN tersebut menunjukkan KPR Subsidi BTN melesat di level 25,54% yoy dari Rp88,92 triliun menjadi Rp111,64 triliun per kuartal III/2019.

    Menurut Oni, hingga akhir tahun nanti, BTN akan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian, perbaikan kualitas, dan penyesuaian dengan likuiditas dalam penyaluran kreditnya. Dengan fokus tersebut, lanjutnya, perseroan membidik pertumbuhan kredit yang lebih realistis. “Target pertumbuhan kredit kami akan realistis di angka 8%-10% sampai dengan akhir 2019,” kata dia.

    Di sisi lain, pada kuartal III/2019, BTN mencatatkan pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18,1%. DPK BTN tercatat naik dari Rp195,05 triliun pada September 2018 menjadi Rp230,35 triliun pada bulan yang sama tahun ini.

    Dengan capaian penyaluran kredit dan penghimpunan DPK tersebut, BTN mencatatkan kenaikan aset sebesar 16,12% dari Rp272,3 triliun pada kuartal III/2018 menjadi Rp316,21 triliun. (son)